selalu mendengar bisikan2 kechil dan suara2 halus.
yang bersama-nya datang membawa seribu satu cherita dan persoalan.
dan khabar2 ini-lah yang selalu meresah-kan diri ini tentang kemungkinan2 yang bakal terjadi kelak tapi malang-nya tanpa kepastian.
dari menanti dan menahan resah ada baik-nya kalau mulai segera enggan lagi mendengar.
pekak-kan telinga, buta-kan hati, dan rencat-kan akal.
sukar dan sukar yang ditempuh, sakit dan perit yang dirasa, kadang2 memang sangat seksa untuk ditanggung.
dan implikasi untuk menjadi manusia kurang adab dan akal itu nampak-nya seperti hanya perlu memetik suis lampu di dinding.
menerima, menerima, dan menerima seadanya tanpa ada peluang untuk sedikit pun bereaksi atau berekspresi sebenar-nya mengecewa-kan.
penerimaan ini bukan seperti penerimaan manusia seistimewa nabi.
ini cuma seorang manusia yang ada emosi.
pendam emosi bukan pilihan.
tapi kadang kala garis sempadan ini akan dilepasi juga namun bukan-lah menjadi niat sebenar-nya.
terkadang penyeberangan sempadan itu lahir akibat pendam emosi yang tak dapat ditanggung.
dan cukup lama reputasi dan persepsi tentang sabar dalam jiwa ini sering dilayar-kan dalam hidup se-hari2.
dan berhidup dengan reputasi dan persepsi itu tidak ringan sebab beban itu menekan emosi dan ekspresi diri ini.
mana mungkin senyum dalam kesedihan.
mustahil ketawa dalam kesakitan.
tapi demi memenuhi tanggapan bahawa diri ini sabar dan tidak banyak beremosi maka semakin lama semakin banyak sakit yang dirasa.
tak mampu manusia ini hidup dalam kondisi itu sebab konflik2 yang telah berlaku jelas menunjuk-kan pola2 kejadian yang pada akhirnya dapat dikonklusi-kan kepada satu perkataan, bencana.
mohon berundur bukan sebab tak mampu, bukan sebab tak nak, bukan sebab takut, bukan sebab rasa diri tak guna, tapi sebab rasa diri perlu mendapat ruang sendiri.
pada bisikan2 kechil dan suara2 halus tolong bawa cherita yang indah bila berkunjung lagi di lain waktu.
notakaki : tak dapat diselamat-kan!
Tiada ulasan:
Catat Ulasan